Selasa, 12 November 2013

aksara lampung

Aksara Lampung atau biasa disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan masyarakat Suku Lampung. Para ahli berpendapat bahwa aksara ini berasal dari perkembangan aksara devanagari yang lengkapnya disebut Dewdatt Deva Nagari atau aksara Pallawa dari India Selatan. Aksara tersebut berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.

Had Lampung terdiri dari huruf induk yang berjumlah 20 buah, yakni: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha. Serta atribut lain seperti; anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah Kaganga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan.

Maka pemerian vokal dan diftongnya menggunakan tanda-tanda serupa fathah pada baris atas dan tanda-tanda kasrah pada baris bawah, tetapi tidak menggunakan tanda dammah pada baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang. Tiap-tiap penanda vokal dan diftong tersebut mempunyai nama tersendiri.
Nama masing-masing anak huruf yang terdiri dari 12 buah itu adalah sebagai berikut: Anak huruf yang terletak di atas huruf: ulan, bicek, tekelubang (ang), rejenjung (ar), datas (an). Anak huruf yang terletak dibawah huruf: bitan dan tekelungau (au). Anak huruf yang terletak di belakang huruf: tekelingai (ai), keleniah (ah), nengen (tanda huruf mati).

Aksara Lampung masuk ke daerah Sumatera Selatan pada jaman kerajaan Sriwijaya (700-1300). Boleh dikatakan bahwa aksara ini memiliki banyak persamaan dengan aksara-aksara di luar Lampung. Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara India.

Namun karena ada pembeda bentuk dan masih dipergunakan oleh sebagian orang di daerah pedalaman Lampung, maka kita sebut aksara tesebut sebagai aksara Lampung. Atau dalam bahasa daerah lampung disebut kelabai surat Lampung, yang berarti “Ibu surat Lampung”. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.

Prof. K.F.Holle berpendapat, cuma sedikit suku-suku di Nusantara yang memiliki aksara sendiri, dan sebagian besar suku-suku tidak memiliki aksara, dan baru mengenal aksara setelah menerima Islam, yaitu huruf Arab-Melayu. Dan dari semua aksara Surat Ulu (aksara Kaganga), aksara Lampung memiliki kelainan tersendirii. Aksara ini telah dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan walau selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975).

Aksara atau Had Lampung memiliki dua kategori aksara, yakni; aksara Lama dan aksara Baru. Antar aksara Lampung yang sekarang masih berlaku dengan aksara-aksara lama Lampung, terdapat dalam tulisan-tulisan piagam lama yang terbuat dari kulit kayu atau tertulis di atas tanduk, buku bambu atau kertas terdapat perbedaan. Contohnya adalah kitab yang terdapat di bekas Keratuan Darah Putih bertahun 1270 H, yang ditulis dalam aksara Lampung Lama dan Arab Melayu, dengan memakan bahasa jawa Banten. Sementara aksara Lampung yang baru adalah aksara yang sekarang masih dipakai di kalangan anggota masyarakat Lampung di daerah pedalam, di kampung-kampung, dan terutama di kalangan orang tua.

Sebagai respon positif dari masyarakat dan pemerintahan Lampung, aksara masyarakat pedalaman ini dibakukan dan diajarkan pada anak-anak di sekolah. Kalangan remaja pun tidak mau ketinggalan, aksara Lampung baru ini dibuat berupa software yang bisa diaplikasikan pada komputer, sehingga memungkinkan untuk berkreasi desain pada kaos, kriya, sofenir, dan sarana pergaulan lainnya dengan aksara-aksara nenek moyang ini.

Galeri Gambar

Lokasi

Sumatera » Lampung

Rabu, 30 Oktober 2013

seruit khas lampung


Selain mengunjungi beberapa tempat wisata di kota Lampung, seperti Taman Dipangga Lampung, Menara Siger, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Pantai Tanjung Setia, dan lain sebagainya, aku dan teman-teman ku berburu kuliner di kota yang terkenal dengan tempat pelatihan dan penangkaran gajahnya yang berada di kawasan Way Kambas.


kami pecinta kuliner mengunjungi sebuah rumah makan untuk mencicipi makanan khas Lampung, Seruit. Apakah kamu pernah mendengar atau mengetahui masakan ini?
Awalnya aku juga nggak tahu, kami hanya memesan menu ini karena rekomendasi pelayan rumah makan tersebut. Katanya, makanan ini adalah makanan favorit yang sering diburu oleh para wisatawan. Aku jadi penasaran untuk melihat seperti apa Seruit ini. Akhirnya setelah makanan dihidangkan, aku barulah tahu Seruit itu bentuknya seperti apaan.
Seruit adalah ikan belide, baung, layis atau jenis ikan besar lainnya yang dibakar atau digoreng dan dicampur dengan sambel terasi, tempoyak, dan irisan manga yang membuat lidah bergoyang. Seruit dihidangkan dengan lalapan. Sedangkan minumannya sendiri adalah Serbat yang adalah jus buah manga kwini. Rasa yang pedas dari seruit akan larut dengan rasa manis dari serbat ini. Yang pasti menu ini emang maknyus.
cara nya gampang kok kalau mau buat serui nya.... 

Bahan:

  • 10 buah cabai merah
  • 3 siung bawang merah
  • 1 sdt terasi yang telah dibakar
  • 1 sdt garam
  • 1 sdm gula pasir
  • 2 buah mangga kuini, cincang kasar
Cara Membuat:

  • Cabai, bawang merah, dan terasi diulekkasar, beri garam dan gula.
  • Masukkan cincangan mangga kuini,aduk hingga rata. Hidangkan. 
gimana kawan pengen nyobain engga nihhh......
ayo maen kelampung.........

Seruit itu adalah makanan khas Lampung. Di rumah biasanya saya mencampur sambal terasi pedes, tempoyak, terong ungu rebus, ikan bakar/goreng, dan di lengkapi beberapa lalapan rebus atau mentah untuk di nikmati, sehingga bisa di namakan Seruit. Rasanya? rasa jangan di tanya, setiap kali bikin seruit, nyeruit bareng keluarga itu saya bisa nambah sampai 2-3 kali makan. Yang bikin enak seruit itu adalah campuran Tempoyak yang terbuat dari Duren yang di fermentasi. Rasanya itu asem-asem manis, di campur dengan sambal yang super pedes..waaaahhh.. jangan harap saya nengok kalau di panggil pas lagi makan…hahaha.
Semakin lama tempoyak di simpan, semakin enak rasanya..semakin pedes sambel yang di bikin seruit..semakin mantaff… apalagi kalau sambalnya itu di buat pake tomat cerry (di Lampung namanya Rampai- di kampungku yang notabene kebanyakan orang Palembang, Tomat cerry ini namanya cung kedire)


Bikin sambal menggunakan tomat cerry lebih menggunggah selera dari pada pakai tomat buah. Tomat cerry itu lebih asam yang kalau di campur pedes pasti enak yah.
Kopi? nyeruput kopi yang hangat dan manis setelah nyeruit bareng itu juga sebuah kepuasan yang tak terhingga. Rasa pedes dari seruit di hapus dengan kopi yang manis dan hangat membuat lidah menari-nari. Jiah..agak lebay yah.. padahal saya jarang ngopi..hihi.
Kalau ngopi itu saya lebih seneng kopi hitam, bukan instan yang sudah di campur susu, kreamer atau lainnya. Kopi hitam itu lebih nikmat menurut saya.
Okdehh..postingan ini agak basi sebenernya. Karena saya bingung mau posting apa, dari minggu kemarin-kemarin males banget buat update blog. Seperti hidup saya mulai membosankan.
Dan karena semalam, di rumah abis nyeruit bareng ngabisin tempoyak kiriman dari ibuku tahun lalu..sedikit membuat semangat saya terbakar lagi karena kepedesan..